Postingan

SOUNTRACK MUSIC OF MY LIFE (WULAN)

Gambar
1.   NCT Dream      Oke, yang pertama dan yang paling utama adalah lagu milik anak-anak NCT dream. Kalau ini gk bisa milih sih serius suka semua. Lagu-lagu mereka yang nemani kalau lagi sedih, seneng, bersemangat. Cuma di sini aku rangkum aja kali yah yang paling sering didengar, favorit lah. Paling banyak sih di album comeback mereka Hello Future- the 1 st album repackage pas Marklee balik lagi, akhirnya 7 dream still together till the end.     a. "Candle Light”.   Bureo bwa candle light, candle light, candle light baby, hamkkehae jun modeun nal gomabdaneun tteushiya  (tiuplah cahaya lilin, cahaya lilin, cahaya lilin sayang, ini bermaksud aku berterima kasih untuk setiap hari di mana kita bersama) Setiap bagian  reff di atas rasanya candu banget--seperti sedang nikmati moment bareng temen dan sahabat yang kemudian hanya tertinggal kenangannya saja adalah hal yang juga cukup membawaku bernostalgia kembali  di malam harinya  se...

SOUNDTRACK MUSIC OF MY LIFE (FIFIN)

Gambar
1. Voice Memo No.5 (Japanese) Waktu itu aku datang terlambat, aku mencari-cari ke ruangan yang agak besar tapi tak ada, berlari pelan ke ruangan sebesar kamar juga tak ada. Mulai menyerah, aku duduk dan tiba-tiba dia datang, dia tersenyum, aku bahagia. Wajahnya sama, beberapa luka kecil, sama persis begitu pun rambutnya. Kami berpindah ke luar ruangan dan duduk bersama, hingga seorang wanita paruh baya datang. Protes akan penampilannya, tentang bagaimana pandangan masyarakat, norma hidup, hal yang harusnya dilakukan dan tidak dilakukan, dan bagaimana tak pantasnya kami bersama. Aku menatapnya tersenyum, mengisyaratkan aku baik-baik saja, tak perlu khawatir, aku tak peduli apa kata mereka, mencoba menenangkannya. Saat hanya ada kami berdua aku menyentuh tangannya, ternyata telapak tanganku sedikit lebih putih darinya. Lebih seperti putih kekuningan dan dia putih kemerahan. 2. Western Sky (Korean) Betapa beruntungnya menyukai seseorang yang masih bisa kau lihat meski dari kejauhan. Tanpa...

Sajak Sang Hamba

  Pengingat Diri Oleh : Wulan Nur Safitri   Hei manusia! Sadarlah! Buana hanya selaksa kisah fatamorgana Siap menelan insan yang lemah Perangilah dirimu dengan iman dalam dada   Jika kematianmu telah tiba Janji, cinta, harapan sudah tak lagi bermakna Retorika “hidup” hanyalah kisah penuh dusta Tertinggal hanyalah jiwa penuh dosa   Begitulah kehidupan yang sebenarnya Bermula dari tiupan sangkakala pertama Musnahlah seluruh dunia dan isinya Sedang dirimu masih tak tahu apa-apa   Lantas apa yang membawa berkah Selain memohon ampunan-Nya Agar hatimu mendapat pelita Dari segala hal yang tak burguna   Muara Jawa, 20 Desember 2020 Pendosa Oleh : Wulan Nur Safitri   Hujan turun seperti netra Mengoyak rasa bahagia Mengingat hidup hanya sementara Sedang amalan masih tak berbuah   Katakanlah dulu bak nirmala Sekarang bagai awan cendramawa Isinya hanya canda dan tawa Tanpa iman dan takwa ...

Abstrak; kekacauan diri.

Gambar
Sunwich-Confused            Pernahkah kamu ingin tenggelam ke dasar lautan yang sangat dalam atau pergi ke ujung dunia agar tidak ada seorang pun yang akan menemuimu, masih hidup? Bukan karena rasa sakit atau siksaan dari orang-orang sekitarmu atau orang yang kau sayangi. Ini lebih kepada rasa bersalah yang sangat besar dan rasa tidak pantas untuk bisa tinggal bersama dengan orang-orang tersebut. Aku sering mendefinisikan bahwa aku adalah orang yang depresi dan punya penyakit mental? Tapi, analisis atau tuduhan kepada diri ini sendiri seperti itu tidaklah benar.                      Rasanya bukan karena itu, logikaku membantu jika apa yang kurasakan saat ini bukan karena hal-hal seperti itu. Sekali lagi, ia mengatakan ini adalah akibat/efek dari perbuatan dosa dan di luar manusia normal lainnya. Analoginya, seorang psikopat yang terkena mental sejak lahir akibat orang tuanya, hingga ia menyalurka...

𝐏𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐏𝐨𝐬𝐢𝐭𝐢𝐟 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐏𝐚𝐧𝐝𝐞𝐦𝐢 𝐂𝐨𝐯𝐢𝐝-𝟏𝟗

Gambar
Wulan Nur Safitri Institut Agama Islam Negeri  Samarinda Email: wulannursafitri64@gmail.com Abstrak Tulisan ini menyajikan definsi serta manfaat dari berpikir positif agar masyarakat Indonesia dapat mengetahui bagaimana pentingnya berpikir positif terutama dalam menghadapi pandemi covid-19 yang masih berlanjut hingga penghujung tahun 2020 ini. Metodologi atau pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini menggunakan metode adalah studi kepustakaan, seperti menelaah dan mengeksplorasi beberapa jenis buku dan jurnal. Adapun sifat dari studi yang dilakukan adalah deskriptif analisis, dan jenis data sekunder.

𝐌𝐚𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐫𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐢𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐁𝐚𝐧𝐢 𝐔𝐦𝐚𝐲𝐲𝐚𝐡

Gambar
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Sejarah Pendidikan Islam Dosen pengampu: Dr. Syeh Hawib Hamzah, S.Ag Disusun Oleh: Wulan Nur Safitri (1911101100)  

Kumpulan Diksi KBBI

Gambar
  A Ambivalen = Bercabang dua yg saling bertentangan (spt mencintai dan membenci orang yg sama) Apatis = Acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh Adorasi = pengorbanan Arkais = berhubungan dengan masa lalu atau bercerita kuno, tidak lazim dipakai lagi Ancala = gunung   Aksa = Jauh  Atma = Jiwa; sukma; arwah Aksama: Ampunan Anala: Api Anila: Angin Anindita: Sempurna Anindya: Cantik Jelita Anitya: Tidak Kekal Ancala = gunung (KBBI) Anitya = Tidak Kekal Astu = Puji Ambu = Aroma Anak dara = Perempuan remaja yang belum menikah Arumi = Harum atau wangi Anca = Rintangan Afsun = Pesona Anggara = Buas; liar Ajun = Maksud Agah = Tatap Alap = Bagus Ancai = Abai  Andam karam = Lenyap Asmaraloka = Dunia cinta kasih Astu=puji Akara=bayang Arumi = harum atau wangi (dalam bahasa Afsun = pesona Anca = rintangan Anggara = buas;liar Adorasi = pengorbanan Ajun = maksud B Bongko = mati (jawa ; kasar) Bagaskara = Matahari Belungsang  = Bentak; hardik Benawat = Sombong Buana = D...

Catatan Dosa {1} Memohon Ampunan-Mu

Tajamnya malam menerkam bulan secercah harapan pengampunan Menapak terangnya langit semesta Rasa diri berdosa, tak kuat pun berkata "Ada" Lalu bait-bait rindu tenggelam sirna Menghimpun kecemburuan pada pada hamba sahaya Yang taat pada tuannya Ingin kuleburkan dosa yang berkecipak dalam dada Beristighfar mohon ampunan Mendenyutkan kalbu, hingga ku tak mampu Berpijak di atas bumi-Mu Sepersekian detik, pikir hujan turun Nyatanya diri ini tak tahan, kesedihan menyerbu... Kerinduan ini, ingin kuteguk dengan keikhlasan jiwaku Demi menggapai setetes cinta Kasih-Mu

Aku Menjauh

Gambar
By. Wulan N S Aku menjauh... pada hal yang tak kutahu aksaraku makin rapuh merangkai satu bait pun aku tak mampu kusadari puisi bukanlah hidupku hanya membuang waktu tanpa lagi harus menunggu   Aku akan menjauh... pada harapan yang tak lagi utuh dari pahitnya pena yang lumpuh berlari tanpa ragu menjemput asa yang mungkin baru (Muara Jawa, 07 Mei 2020) @Rumahtanpacahaya

Bukan Sekedar Goresan Kata

Puisi Dunia dalam kata Tentang pikir rasa tanpa arah dan makna Penyair yang tahu sebenarnya Pun begitu,  Tanya kita, mengapa harus ada? Karena keindahan aksara Tak boleh terbuang percuma goresan pena, goresan kata bukan hanya karya sastra semata Dalam barisnya Tertuang banyak kisah wujud dari ketidakberdayaan diri dalam berkata Jum'at, 11/01/19

Sajak Sang Pemimpi

Gambar
Sajak Sang Pemimpi Oleh Wulan Nur Safitri Kutulis sajak ini  dengan gelora semangat diri mengejar mimpi yang pasti walau malam sepi menyelimuti Sajak ini jadi saksi tau-tau kelak diriku  tak bangkit lagi di saat aku gagal sekali pun berkali-kali? Maka itu kugores bait ketiga  sajak ini tunjukkan kerja keras pasti berbuih  asal terus bangkit jangan terhenti tuk benahi diri Perbaiki akhlak budi pekerti j angan lupa pada Ilahi sang pemilik kehidupan  sekarang pun yang akan datang nanti.

Mengapa lagi?

Mengapa Lagi Oleh Y.E. Tatenggkeng Mengapa lagi Setiap pagi, Aku bangun dengan pengharapan, Sedang di hati hilang ketetapan?         Mengapa lagi         Setiap pagi, Aku berharap datangnya suka, Sedang di hati memendam duka?         Mengapa lagi         Setiap pagi, Kutunjuk muka yang riang manis, Sedang di hati mengalir tangis         Mengapa lagi         Setiap pagi, Kusempat gelak, kudapat nyanyi, Sedang di hati lengang dan sunyi?                              (dari: Rindu Dendam , hlm. 27)