𝐏𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐏𝐨𝐬𝐢𝐭𝐢𝐟 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐏𝐚𝐧𝐝𝐞𝐦𝐢 𝐂𝐨𝐯𝐢𝐝-𝟏𝟗



Wulan Nur Safitri

Institut Agama Islam Negeri Samarinda

Email: wulannursafitri64@gmail.com

Abstrak

Tulisan ini menyajikan definsi serta manfaat dari berpikir positif agar masyarakat Indonesia dapat mengetahui bagaimana pentingnya berpikir positif terutama dalam menghadapi pandemi covid-19 yang masih berlanjut hingga penghujung tahun 2020 ini. Metodologi atau pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini menggunakan metode adalah studi kepustakaan, seperti menelaah dan mengeksplorasi beberapa jenis buku dan jurnal. Adapun sifat dari studi yang dilakukan adalah deskriptif analisis, dan jenis data sekunder.

Kata Kunci: Berpikir positif, covid-19

Abstract

This paper presents the definitions and benefits of positive thinking so that the Indonesian people can find out how important positive thinking is, especially in dealing with the Covid-19 pandemic which continues until the end of 2020. The methodology or approach used in this paper uses the method of literature study, such as examining and exploring several types of books and journals. The nature of the study conducted is descriptive analysis, and types of secondary data.

Keywords: Positive thinking, covid-19

 

A. Latar Belakang

Saat ini, dunia masih dihebohkan dengan hadirnya wabah Covid- 19. Terlebih lagi di penghujung tahun 2020, wabah ini terus mengakibatkan berbagai macam persoalan di bidang kehidupan terutama dalam pada kesehatan, raga serta psikologis setiap orang (Banerjee, 2020; Brooke dkk., 2020; Zhang dkk.,2020). Menurut Brooks dkk (2020), dampak psikologis sepanjang pandemi antara lain kendala tekanan pikiran, kebimbangan, kegelisahan, frustrasi, ketakutan akan infeksi, tidak bisa tidur serta merasa tidak berdaya. Ruang gerak yang terbatas serta sedikitnya interaksi dengan sahabat sebaya semasa pandemi bisa mempengaruhi terhadap kesehatan jiwa. Karena itu, di tengah kegelisahan dalam mengalami Covid-19 di Negara selain upaya yang sudah ditempuh oleh pemerintah dalam menghadang pandemi Covid-19 terdapat perihal lain yang dapat memberikan energi lebih dalam menghadapi wabah ini, tetapi tidak disadari oleh warga Indonesia yaitu berpikir positif. Seperti Covid-19 yang mudah tersebar, berpikir positif juga mesti mudah tersebar dan merasuki jiwa-jiwa warga Indonesia, sampai tumbuh kepercayaan serta keberanian untuk dapat berdiri tegak dalam menghadapi pandemi Covid-19. Jadi memandang dari paparan uraian di atas timbul persoalan mengenai bagaimana warga Indonesia dapat berpikir positif dalam mengalami pandemi covid-19 ini.

 

B. Landasan Teori

       Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gilbert, orang yang senantiasa  berpikir positif, akan dapat merasakan lebih rileks dan dapat mengontrol stress lebih baik.[1] Berpikir positif akan menjadikan individu lebih optimis menghadapi hidup dan memudahkan individu untuk beraktivitas dengan baik. Individu yang tidak mampu berpikir positif akan merasakan kesulitan dalam hidup, karena keyakinan dan konsep yang salah dan negatif mengenai hidupnya dan lingkungannya.[2]

      Bahkan Rasulullah SAW pun mengajarkan. Ketika tertimpa musibah wabah yaitu tetap membangun pikiran yang positif, prasangka baik, optimis, ikhtiar serta tawakkal. Rasulullah SAW. bersabda “tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhori).

 

C. Metode Penelitian

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, yaitu studi yang objek penelitiannya berupa karya-karya kepustakaan, baik berupa jurnal ilmiah, buku, artikel dalam media massa, maupun data-data statistik. Kepustakaan tersebut akan digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian yang diajukan oleh penulis yang dalam hal ini adalah bagaimana agar masyarakat Indonesia dapat berpikir positif dalam menghadapi pandemi virus Covid-19. Adapun sifat dari studi yang dilakukan adalah deskriptif analisis yaitu memberikan edukasi dan pemahaman kepada pembaca, serta jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

 

D. Pembahasan

1. Berpikir Positif

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Sedangkan, positif artinya yakin, pasti, tegas. Berpikir positif adalah cara berpikir yang berangkat dari hal-hal baik, yang mampu menyulut semangat untuk melakukan perubahan menuju taraf hidup yang lebih baik. Dalam konteks inilah berpikir positif telah menjadi sebuah sistem berpikir yang mengarahkan dan membimbing seseorang untuk meninggalkan hal-hal negatif yang bisa melemahkan semangat perubahan dalam jiwanya.[3]

    Menurut Muwafik Saleh, berpikir positif adalah pikiran yang mengarahkan seseorang untuk melihat segala sesuatu secara positif atau dari segi positifnya.[4] Seligman (2008) menjelaskan bahwa orang yang berpikir positif cenderung menafsirkan permasalahan mereka sebagai hal yang sementara, terkendali, dan hanya khusus untuk satu situasi, orang yang berpikir negatif sebaliknya yakin bahwa permasalahan mereka berlangsung selamanya, menghancurkan segala yang mereka lakukan dan tidak terkendali. Berpikir positif merupakan usaha mengisi pikiran dengan berbagai hal yang positif atau muatan yang positif. Memasukkan muatan positif pada ruang pikiran merupakan tindakan positif namun tindakan tersebut berada pada tingkatan yang masih rendah jika muatan positif tersebut tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Oleh karena itu isi muatan yang positif tersebut perlu diaktualisasikan ke dalam tindakan agar ada dampak yang ditimbulkan.[5]

    Menurut Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi Berpikir Positif, menjelaskan bahwa berpikir positif adalah sumber kekuatan dan sumber kebebasan. Disebut sebagai sumber kekuatan karena ia membantu manusia memikirkan solusi sampai mendapatkannya. Dengan begitu manusia bertambah mahir, percaya, dan kuat. Disebut sebagai sumber kebebasan karena dengannya manusia akan bebasa dari penderitaan dan belenggu pikiran negatif yang dapat mempengaruhi fisik manusia.[6]

    Individu yang cenderung berpikir positif dapat dideteksi melalui beberapa kriteria. Pertama, percaya pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, selalu menjauh dari perilaku negatif seperti berbohong, menggunjing, mengadu domba, dan sebagainya. Ketiga, memiliki cara pandang, tujuan, dan alasan menginginkan sesuatu, kapan, serta bagaimana cara mendapatkannya dengan mengerahkan seluruh potensi serta kemungkinan yang ada. Keempat, memiliki keyakinan dan proyeksi tentang sesuatu secara positif. Kelima, selalu mencari jalan keluar dari berbagai masalah yang dihadapi. Keenam, belajar dari masalah dan kesulitan. Ketujuh, tidak membiarkan masalah atau kesulitan mepengaruhi hidupnya. Kedelapan, memiliki rasa percaya diri, menyukai perubahan, dan berani menghadapi tantangan. Kesembilan, hidup dengan cita-cita, perjuangan, dan kesabaran. Terakhir, pandai bergaul dan suka membantu orang lain.[7]

    Seseorang harus memiliki positive expectation (harapan positif) bila melakukan sesuatu lebih memusatkan perhatian pada kesuksesan, optimis, pemecahan masalah, dan menjauhkan diri dari rasa takut akan kegagalan serta selalu menggunakan kata-kata yang mengandung harapan. Seseorang yang memiliki harapan, impian, atau cita-cita akan cenderung lebih positif. Adapun Implementasi dari diri yang berpikir positif bisa di lihat dari beberapa indikator di antaranya : 

    Percaya diri. Bila seseorang memiliki pikiran yang positif maka ia akan yakin pada dirinya sendiri serta pada orang lain. Berkat pikiran yang positif seseorang menjadi lebih berkeinginan untuk mencoba hal-hal yang baru serta mencoba berbagai kesempatan. 

  1. Inisiatif. Percaya diri juga menjadikan seseorang sebagai pribadi yang penuh inisiatif. Keyakinan bahwa hidup ini positif dapat menimbulkan keinginan kuat di dalam diri untuk mencoba hal-hal yang baru. 
  2. Ketekunan. Bila seseorang yakin bahwa hal-hal yang positif akan terjadi maka orang itu akan tetap tekun berusaha hingga hal-hal positif itu benar-benar muncul. Bahkan bila ada berbagai halangan sekalipun akan tetap pantang mundur. 
  3. Kreativitas. Jika pikiran seseorang tertuju pada hal-hal positif maka akan tumbuh keinginan besar pada diri orang itu untuk terus menyelidiki, bertanya, serta mencari tantangan-tantangan baru. 
  4. Kepemimpinan. Belajar untuk menjadi pemimpin besar membutuhkan proses yang lama namun bisa dimulai dari hubungan dengan orang lain. Orang tidak akan mau mengikuti seseorang yang tidak mereka sukai, kalaupun ikut tidak untuk jangka waktu yang lama. Dan jarang sekali dijumpai orang yang benar-benar menyukai orang-orang yang negatif. 
  5. Perkembangan. Jika kita berpikir positif banyak pintu terbuka lebar bagi kita. Salah satu yang paling utama adalah pintu peluang untuk tumbuh berkembang. Sikap yang baik akan membuat haus perkembangan. 

    Kemampuan menghasilkan sesuatu. Tidak aka nada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif. Yang perlu digaris bawahi adalah seseorang yang berpikiran positif pasti mampu menghasilkan sesuatu.[8]

Menurut Andrea (2011), terdapat beberapa langkah untuk mencapai pikiran positif yaitu:

  1. Kuasai pikiran dengan penuh keyakinan. 
  2. Tetapkan pikiran pada apa yang diinginkan.
  3. Singkirkan semua pikiran negatif. 
  4. Berikan sugesti positif pada diri sendiri. 
  5. Selalu bertoleransi.
  6. Gunakan kekuatan doa. 
  7. Tetapkan tujuan.[9]

Selain itu, menurut brahim Elfiky  ada beberapa strategi untuk seseorang bisa membawanya dirinya berpikir positif, yaitu :

  1. Pikirkan masalah yang anda hadapi saat ini dan anda tidak dapat penyelesaian sesai dengan apa yang anda inginkan.
  2. Pikirkan perilaku positif yang dapat anda gunakan.
  3. Perhatikan perasaan anda sekarang. Anda psti merasakan sesuatu yang postif karena mendapaatkan hasil positif yang diinginkan.
  4. Tariklah nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali, pejamkan mata, bayangkan anda kembali ke masa lalu dan menemui orang itu lagi. Bayangkan anda begitu percaya diri dan mendapat hasil yang anda inginkan. Satukanlah perasaan anda dengan hasil yang anda dapatkan, lalu tarik nafas lagi dan buka mata anda.
  5. Bayangkan anda peda masa yang akan datang dalam posisi yang berbeda-beda dan berhadapan dengan orang penting serta anda menunjukan perilaku yang percaya diri dengan segala apa yang anda miliki.[10]

2. Dampak berpikir positif saat covid-19

        COVID-19 tergolong virus yang berbahaya. Terdapat kurang lebih 200 negara dari berbagai belahan dunia yang telah terjangkit virus ini. Di Indonesia pada 10 April 2020 terdapat 3.512 kasus yang positif, sembuh 282 orang dan meninggal sebanyak 306 orang dengan tingkat kematian sebesar 9,1%. Tingginya tingkat kematian di Indonesia dipengaruhi oleh keberadaan penyakit yang dimiliki oleh pasien positif virus corona, usia rentan, dan fasilitas kesehatan yang kurang memadai. Besar nya tingkat kematian hari demi hari tidak hanya menimbulkan gejala dan penyakit fisik saja akan tetapi, berpengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia yang didalamnya mencakup kesehatan mental. Ditambah dengan kebijakan pemerintah seperti physical distancing dan PSBB untuk menanggulangi COVID-19 ini bagi sebagian orang menimbulkan dampak negative seperti cemas, tertekan, hingga stress.[11]

          Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan untuk pencegahan covid-19 membuat terus bertambahnya kasus di mana-mana. Pemerintah Indonesia melalui kementrian kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 dan World Health Organization (WHO) menganjurkan masyarakat untuk menjaga jarak aman dengan orang lain dengan physical distancing. Selain himbauan dari pemerintah ada energi besar yang dapat dibangun yaitu masyarakat harus dapat berpikir positif dalam menghadapi covid-19 ini, karena dapat dilihat sejak munculnya virus ini masyarakat merasa takut, gelisah serta gangguan kecemasan lainnya. Mereka memikirkan, pekerjaan, pendidikan, serta aktifitas lainnya yang tidak bisa dilakukan secara normal lagi. Dengan berpikir positif seseorang akan melakukan tindakan yang positif juga. Seseorang akan percaya, bahwa wabah yang datang melanda dunia ini akan lenyap dan tentu semua hal akan kembali seperti semula.

        Pemikir positif akan menghadapi keadaan dengan optimisme dan jika mereka menghadapi situasi yang penuh stres, mereka menilai itu dapat dikontrol. Selain itu, orang yang optimis yang menghadapi kesulitan dapat mencoba mengubah atau menghilangkan faktor stres. Mereka positif tentang masa depan dan melanjutkan upaya mereka untuk meningkatkan kehidupan mereka, sementara orang yang pesimis mencoba melarikan diri dari kesulitan daripada mengelolanya. Secara umum, orang yang optimis mencoba untuk mendapatkan dukungan emosional, menerima peran mereka dalam menciptakan masalah, dan berusaha untuk memperbaiki situasi serta menghadapi tantangan (Snyder & Lopez dalam Alsaleh dan Kubitary, 2016).

       Adanya social distancing menimbulkan jarak secara emosional antara keluarga, teman, sahabat, atau umat di tempat ibadah sehingga seseorang akan mudah merasa kesepian karena kurangnya komunikasi terutama ketika hanya berada di rumah seharian. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Sabati (2010), semakin tinggi tingkatan berpikir positif seseorang maka semakin rendah kecemasan berkomunikasi, dan sebaliknya semakin rendah tingkat berpikir positif seseorang maka semakin tinggi kecemasan berkomunikasi.[12]

        Menurut Stallard, Pikiran-pikiran negatif yang seringkali muncul dapat menyebabkan stres, cemas maupun depresi obsesif. Sumber permasalahan berupa pola pikir yang negatif terhadap diri, lingkungan dan masalah yang dihadapi pada hakekatnya merupakan suatu ancaman bagi keberlangsungan hidup sehingga individu perlu mengantisipasinya.[13] Namun dengan berpikir positif maka hal itu dapat teratasi misalnya melakukan aktifitas hobi, seperti mendengarkan musik, menonton drama, olahraga, dan tentu hal itu akan menghindari seseorang merasakan yang namanya stress akibat berada di rumah saja.

     Bahkan dalam pandangan sains dan agama dalam menyikapi pandemi covid-19 ini yaitu dengan berpikir positif dan mengambil hikmah atas musibah ini salah satunya alam merefresh kembali keadaan seperti berkurangnya polusi udara, mengembalikan peran hakiki orang tua dalam mendidik anak, saling peduli terhadap sesama, dan lain sebagainya. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan dengan memperbanyak beribadah. Kita bisa memanfaatkan waktu yang sangat luang untuk beribadah dengan sholat tahajjud dan bisa dilanjut dengan tadarus (membaca Al-Quran) dan bisa dilanjut sholat dhuha di pagi hari. Meskipun dalam kondisi ditimpa musibah kita tidak boleh melupakan untuk selalu bersyukur. Karena musibah hanya sebagian kecil dari jutaan nikmat yang telah Allah berikan pada umatnya (Mahsun, 2020).[14]

 

E. Kesimpulan

Berpikir positif mempunyai peranan yang besar untuk melawan serangan Covid-19 di samping menjaga imunitas tubuh dan pola makan yang sehat. Pentingnya berpikir positif di tengah wabah covid-19 tidak lain adalah untuk menghindari berbagai macam pikiran-pikiran negatif yang seringkali muncul seperti kehilangan pekerjakaan, pendidikan, ekonomi yang dapat menyebabkan stres, cemas maupun depresi obsesif. Dengan berpikir positif, seseorang pun akan mendapatkan timbal balik yang positif terhadap setiap perilaku dan tindakannya dalam menjalani kehidupan yang penuh rintangan ini.


DAFTAR PUSTAKA

  • Adriansyah, Muhammad Ali, Diah Rahayu, and Netty Dyan Prastika, ‘Pengaruh Terapi Berpikir Positif Dan Cognitive Behavior Therapy (Cbt) Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Mahasiswa Universitas Mulawarman’, Jurnal Psikostudia Universitas Mulawarman, 2015
  • Anggraini, Y, A Syaf, and A Murni, ‘Hubungan Antara Berpikir Positif Dengan Kecemasan Komunikasi Pada Mahasiswa’, Psychopolytan (Jurnal Psikologi), 1.1 (2017), 31–38
  • Arifin, Yanuar, 100% Bisa Selalu Berpikir Positif (Jogjakarta: DIVA Press, 2011)
  • Asmani, Jamal Ma’mur, The Law Of Positive Thinking (Jogjakarta: Garailmu, 2009)
  • Elfiky, Ibrahim, ‘Terapi Berpikir Positif (Biarkan Mukjizat Dalam Diri Anda Melesat Agar Hidup Lebih Sukses Dan Lebih Bahagia)’ (Jakarta: Zaman, 2009)
  • Gilbert, Jenelle, and Terry Orlick, ‘Teaching Skills for Stress Control and Positive Thinking to Elementary School Children’, 7, 2002, 54–66
  • Ilpaj, Salma Matla, and Nunung Nurwati, ‘Analisis Pengaruh Tingkat Kematian Akibat Covid-19’, Jurnal Pekerjaan Sosial, 2020
  • Kholidah, En, and a Alsa, ‘Berpikir Positif Untuk Menurunkan Stres Psikologis’, Jurnal Psikologi, 39.1 (2012), 67–75
  • Michael, Andrea, Kekuatan Super Dahsyat Berpikir Positif (Jogjakarta: Pinang Merah, 2011)
  • Mukhlis, Akhmad, ‘Pengaruh Pelatihan Berpikir Positif Pada Ketidakpuasan Terhadap Citra Tubuh (Body Image Dissatisfaction)’, Psikoislamika : Jurnal Psikologi Dan Psikologi Islam, 10.1 (2013), 5–14 <https://doi.org/10.18860/psi.v10i1.6357>
  • Rusydi, Ahmad, ‘Konsep Berpikir Positif Dalam Perspektif Psikologi Islam Dan Manfaatnya Bagi Kesehatan’, Proyeksi, 7.1 (2012), 1–31
  • Saleh, Muwafik, Membangun Karakter Dengan Hati Nurani (Jakarta: Erlangga, 2012)
  • Siregar, Hariman Surya, Hamdan Sugilar, and Hamdan Hambali, ‘Merekonstruksi Alam Dalam Kajian Sains Dan Agama Studi Kasus Pada Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) Dampak Covid-19’, Karya Tulis Ilmiah UIN Sunan Gunung Djjati Bandung, 2020



[1]  Jenelle Gilbert and Terry Orlick, ‘Teaching Skills for Stress Control and Positive Thinking to Elementary School Children’, Issue No. 7,1. 2002, 54–66.

[2] Ahmad Rusydi, ‘Konsep Berpikir Positif Dalam Perspektif Psikologi Islam  dan Manfaatnya Bagi Kesehatan’, Proyeksi, 7.1 (2012), hlm.3.

[3] Yanuar Arifin, 100% Bisa Selalu Berpikir Positif (Jogjakarta: DIVA Press, 2011), hlm. 18

[4] Muwafik Saleh, Membangun Karakter Dengan Hati Nurani (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm. 157

[5] Muhammad Ali Adriansyah, Diah Rahayu, And Netty Dyan Prastika, ‘Pengaruh Terapi Berpikir Positif Dan Cognitive Behavior Therapy (Cbt) Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Mahasiswa Universitas Mulawarman’, Jurnal Psikostudia Universitas Mulawarman, 2015, hlm. 107

[6] Ibrahim Elfiky, ‘Terapi Berpikir Positif (Biarkan Mukjizat Dalam Diri Anda Melesat Agar Hidup Lebih Sukses Dan Lebih Bahagia)’ (Jakarta: Zaman, 2009).

[7] Akhmad Mukhlis, ‘Pengaruh Pelatihan Berpikir Positif Pada Ketidakpuasan Terhadap Citra Tubuh (Body Image Dissatisfaction)’, Psikoislamika : Jurnal Psikologi Dan Psikologi Islam, 10.1 (2013), 5–14 <https://doi.org/10.18860/psi.v10i1.6357>.

[8] Asmani, Jamal Ma’mur. The Law Of Positive Thinking (Jogjakarta: Garailmu, 2009), hlm. 26-30

[9] Michael, Andrea. Kekuatan Super Dahsyat Berpikir Positif (Jogjakarta: Pinang Merah, 2011).

[10] Ibrahim Elfiky, ‘Terapi Berpikir Positif (Biarkan Mukjizat Dalam Diri Anda Melesat Agar Hidup Lebih Sukses Dan Lebih Bahagia)’ (Jakarta: Zaman, 2009), hlm. 277.

[11] Salma Matla Ilpaj and Nunung Nurwati, ‘Analisis Pengaruh Tingkat Kematian Akibat Covid-19’, Jurnal Pekerjaan Sosial, 2020. hlm. 1.

[12] Y Anggraini, A Syaf, and A Murni, ‘Hubungan Antara Berpikir Positif Dengan Kecemasan Komunikasi Pada Mahasiswa’, Psychopolytan (Jurnal Psikologi), 1.1 (2017), hlm. 31–38.

[13] En Kholidah and a Alsa, ‘Berpikir Positif Untuk Menurunkan Stres Psikologis’, Jurnal Psikologi, 39.1 (2012), hlm. 69.

[14] Hariman Surya Siregar, Hamdan Sugilar, and Hamdan Hambali, ‘Merekonstruksi Alam Dalam Kajian Sains Dan Agama Studi Kasus Pada Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) Dampak Covid-19’, Karya Tulis Ilmiah UIN Sunan Gunung Djjati Bandung, 2020.

Komentar